Al Lail

Surat ini merupakan surat yang ke- 9 yang diterima Rasulullah dan surat ke 92 berdasarkan urutan Mushaf al-Qur’an. Terdiri dari 21 ayat. Surat ini termasuk surat Makkiyyah.

Asbabun Nuzul:

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari al-Hakam bin Abban, dari ‘Ikrimah, yang bersumber dari ‘Ibnu ‘Abbas, bahwa ada seorang pemilik pohon kurma mempunyai pohon yang cabangnya menjulur ke rumah tetanganya, seorang fakir yang banyak anak. Setiap kali pemilik kurma itu memetik buahnya, ia memetiknya dari rumah tetangganya itu. Apabila ada kurma yang jatuh dan dipungut oleh anak-anak orang fakir itu, ia segera turun dan merampasnya dari tangan anak-anak itu, bahkan yang sudah masuk mulut mereka pun dipaksanya keluar. 

Orang fakir itu mengadukan halnya kepada Nabi SAW. Beliau berjanji akan menyelesaikannya. Kemudian Rasulullah SAW bertemu dengan pemilik kurma itu dan bersabda: “Berikan kepadaku pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah si fulan. Sebagai gantinya kamu akan mendapat pohon kurma di surga” Si pemilik pohon kurma berkata: “Hanya sekian tawaranmu? Aku mempunyai banyak pohon kurma, dan pohon kurma yang diminta itu yang paling baik buahnya”. Lalu si pemilik pohon kurma itu pun pergi. 

Pembicaraan si pemilik pohon kurma dengan Nabi SAW itu terdengan oleh seorang dermawan, yaitu Abu Ad-Dahda’ al-Anshari, yang langsung menghadap Rasulullah SAW dan berkata: “Seandainya pohon itu menjadi milikku, apakah tawaranmu itu Ya Rasulullah berlaku juga bagiku?” Rasulullah SAW menjawab : “Ya.” Maka pergilah orang itu menemui pemilik pohon kurma. Si pemilik pohon kurma berkata: “Apakah engkau tahu bahwa Muhammad SAW menjanjikan pohon kurma di surga sebagai ganti pohon kurma yang cabangnya menjulur ke rumah tetanggaku? Aku telah mencatat tawaran beliau. Akan tetapi buah pohon kurma itu sangat mengagumkan. Aku banyak mempunyai pohon kurma, tetapi tidak ada satu pohon pun yang selebat itu”. Abu Ad-Dahda’ al-Anshari berkata: “Apakah engkau mau menjualnya?” Ia menjawab : “Tidak, kecuali apabila ada orang yang sanggup memenuhi keinginanku, akan tetapi pasti tidak aka nada yang sanggup”. Abu Ad-Dahda’ al-Anshari berkata lagi: “Berapa yang engkau inginkan?” Ia berkata : “Aku ingin empat puluh pohon kurma”. Abu Ad-Dahda’ al-Anshari terdiam, kemudian berkata lagi : “Engkau minta yang bukan-bukan. Tapi baiklah aku berikan empat puluh pohon kurma padamu, dan aku minta saksi jika engkau benar-benar mau menukarnya”. Iapun memanggil sahabat-sahabatnya untuk menyaksikan penukaran itu. 

Orang dermawan itu menghadap Rasulullah SAW dan berkata: “Ya Rasulullah, pohon kurma itu telah menjadi milikku. Aku akan menyerahkannya kepada tuan”. Maka berangkatlah Rasulullah SAW menemui pemilik rumah yang fakir itu dan bersabda: “Ambillah pohon kurma itu untukmu dan keluargamu”. Maka turunlah ayat ini (al-Lail ayat 1- akhir ayat) yang membedakan kedudukan orang bakhil dengan orang dermawan.

Tafsir

  1. يَغْشٰ إِذَا وَالَّيْلِ
    itu menutup saat Demi Malam
  2. وَالنَّهَا رِ إِذَاتَجَلَّيٰ
    Demi siang saat bersinar terang
  3. وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَيٰ
    Dan Dia yang menciptakan Laki-Laki dan Perempuan
  4. إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّيٰ
    Sesungguhnya usaha-usaha kalian bermacam-macam
  5. فَأَمَّا مَنْ أَعْطَيٰ وَاتَّقَيٰ
    Maka untuk siapa yang memberikan dan takut
  6. وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ
    Dan mempercayai kebaikan terbaik
  7. فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَيٰ
    Maka Kami akan memudahkan menuju kemudahan
  8. s
  9. s
  10. s
  11. s
  12. ss
  13. s
  14. s
  15. a
  16. a
  17. aw

Allah telah bersumpah: wal laili idzaa yaghsyaa (“Demi malam apabila menutupi [cahaya siang]”) yakni apabila menutupi makhluk dengan kegelapannya. Wan naHaari idzaa tajallaa (“Dan siang apabila terang benderang”) yakni dengan cahaya dan sinarnya. Wamaa khalaqadz dzakara wal untsaa (“Dan penciptaan laki-laki dan perempuan.”) yang demikian itu  sama seperti firman Allah: wa ming kulli syai-in khalaqnaa zaujaini (“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan.”)(adz-Dzaariyaat: 49). Ketika sumpah itu menggunakan hal-hal yang saling bertentangan, maka yang disumpahkanpun  juga saling bertentangan [berlawanan]. Oleh Karena itu Dia berfirman: inna sa’yakum lasyattaa (“Sesungguhnya usahamu memang berbeda-beda.”) yakni berbagai amal perbuatan hamba-hamba-Nya yang mereka kerjakan saling bertentangan dan juga bertolak belakang, dimana ada yang berbuat kebaikan dan ada juga yang berbuat keburukan.

Firman Allah: “Fa ammaa man a’thaa wattaqaa (“Adapun orang yang memberikan [hartanya di jalan Allah] dan bertakwa). Yakni mengeluarkan apa yang diperintahkan untuk dikeluarkan  dan berakwa kepada Allah dalam segala urusannya. Wa shaddaqa bil husnaa (“Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik.”) yakni diberi balasan atas semuanya itu. Demikian yang dikemukakan oleh Qatadah. Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yaitu dengan peninggalan.” Abu ‘Abdirrahman as-Sulami dan adl-Dlahhak mengatakana: “Yaitu dengan kalimat laa ilaaHa illallaaHu (tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah). Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, dia berkata, aku pernah  bertanya kepada Rasulullah saw. Mengenai  kata al husnaa, maka beliau menjawab: “Al husnaa berarti syurga.”

Firman-Nya: fasanuyassiruHuu lil yusraa (“Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yakni menuju kepada kebaikan.”

Wa ammaa mam bakhila was taghnaa (“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup.”) ‘Ikrimah berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Yakni kikir terhadap hartanya dan tidak membutuhkan Rabb-nya.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. Wakadzdzaba bil husnaa (“Serta mendustakan pahala yang terbaik.”) yakni mendustakan pahala di alam akhirat kelak. fasanuyassiruHuu lil ‘usraa (“Maka kelak kami akan menyiapkan baginya [jalan] yang sukar.”  Yakni jalan keburukan, sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala yang artinya: “dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (al-An’am: 110)

Ayat-ayat al-Qur’an yang membahas tentang pengertian ini cukup banyak yang menunjukkan bahwa Allah akan memberi balasan kepada orang yang menuju kepada kebaikan berupa taufiq untuk mengarah kepadanya. Dan barangsiapa menuju kepada keburukan, akan diberi balasan berupa kehinaan. Semuanya itu sesuai dengan takdir yang ditetapkan.

Dan hadits-hadits yang menunjukkan pengertian itu juga cukup banyak. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib, dia berkata: “Kami pernah bersama Rasulullah saw. di kuburan Baqi’ al Gharqad untuk mengantar jenazah, beliau bersabda: ‘Tidak ada seorangpun di antara kalian melainkan telah ditetapkan tempat duduknya di surga dan tempatnya di neraka.’ Para shahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, mengapa kita tidak pasrah saja?’ Beliau menjawab: ‘Beramallah kalian, karena masing-masing akan diberikan kemudahan menuju kepada apa yang diciptakan untuknya.’ Setelah itu beliau membaca ayat: “Fa ammaa man a’thaa wattaqaa Wa shaddaqa bil husnaa. fasanuyassiruHuu lil yusraa   (“Adapun orang yang memberikan [hartanya di jalan Allah] dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik. Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. –sampai pada firman-Nya: “baginya jalan yang sukar.”)

Ibnu Jarir mengatakan: “Dan disebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Bakar ash-Shidiq: “Fa ammaa man a’thaa wattaqaa Wa shaddaqa bil husnaa. fasanuyassiruHuu lil yusraa   (“Adapun orang yang memberikan [hartanya di jalan Allah] dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik. Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.”)

Firman Allah: wa maa yughnii ‘anHu maa luHuu didzaa taraddaa (“Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.”) Mujahid mengatakan: “Yakni jika dia mati.” Abu Shalih dan Malik berkata dari Zaid bin Aslam: “Yakni, jika telah binasa di dalam Neraka.”

Advertisements

Tadabbur Surat ke 113 Al Falaq – 4

113_4

Naf-fatsaat (plural feminin) – dalam bahasa arab berarti wanita-wanita yang meniup pada simpul-simpul. Tetapi itu juga bisa berarti kata sifat dari nufuus, plural dari nafs (mereka yang meniup ke simpul-simpul sihir.  Nafts ialah kata feminine, sementara naf-fatsaat = feminine plural. Ini juga bisa menunjukkan kepada suatu kelompok-kelompok manusia melakukan sihir secara tertutup. Naf-fatsa (nun, fa, fa, Tsa [dengan 3 titik padanya] berarti yang meniup dengan sedikit ludah keluar dari mulutnya.

 

Bertikai dengan sesama muslim masuk neraka

Persaudaraan dalam muslim sangat dijunjung dan diajarkan oleh Rasulullah. Kali ini kita mencoba mengambil hikmah dalam hadis shahih dari Bukhari sebagai berikut:

“Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Al Mubarak Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid Telah menceritakan kepada kami Ayyub dan Yunus dari Al Hasan dari Al Ahnaf bin Qais berkata; aku datang untuk menolong seseorang kemudian bertemu Abu Bakrah, maka dia bertanya: Kamu mau kemana? Aku jawab: hendak menolong seseorang. dia berkata: Kembalilah, karena aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika dua orang muslim saling bertemu (untuk berkelahi) dengan menghunus pedang masing-masing, maka yang terbunuh dan membunuh masuk neraka. aku pun bertanya: Wahai Rasulullah, ini bagi yang membunuh, tapi bagaimana dengan yang terbunuh? Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: Dia juga sebelumnya sangat ingin untuk membunuh temannya. (HR.bukhari No : 30)”

Dari hadis ini, ketika kita melihat ada dua rekan sesama muslim yang berantem hanya gara-gara persoalan sepele apalagi terkait dengan duniawi maka sebaiknya jika bisa kita membantu mendamaikan. Mendamaikan dengan mengingatkan kepada mereka yang bertikai mengenai bagaimana Rasulullah memandang dua orang muslim yang berkelahi sampai ingin membunuh.

Hal yang bisa kita ambil contoh seperti tawuran dan segala bentuk kekerasan yang terjadi di masyarakat. Tawuran antar murid sekolah, mahasiswa hingga para fans klub sepakbola. Mereka tidak melihat bahwa orang yang dianggap musuh baginya ialah juga muslim dan mereka hanya berkelahi hanya gara-gara fanatisme terhadap kelompok dan golongannya.

Semoga kita semua dan keluarga dapat terlindung dari permusuhan seperti ini yang mengakibatkan perpecahan di tubuh umat Islam.

Tadabbur Surat ke 113 Al Falaq – 3

113_3

Ghaasiqin berasal dari kata ghasaq yaitu bagian pertama saat malam. Ketika langit biru telah pergi maka langit menjadi hitam. Kata Ghaasiq dalam literatur arab berarti yang hilang seperti saat matahari hilang maka keadaan menjadi gelap. Ghasaq al Qamar berarti gerhana bulan. Allah berfirman bahwa waktu saat malam yang benar-benar gelap.

Min syarri ghaasiqin -dari kejahatan malam. Rasulullah menghindari sahabat-sahabatnya dari keluar saat malam. “Jika kalian tahu apa yang saya tahu, maka kamu tidak akan keluar saat malam.” Syaithan pada berkumpul di laut saat malam. Dalam kondisi sosial kita sekarang, banyak manusia melakukan tindak kejahatan saat waktu malam. Nightclub, narkoba, minum alkohol, berzina dan lainnya. Potensi kejahatan saat waktu malam semakin lebih besar. Jadi kita minta Allah untuk melindungi kita dari kejahatan saat gelap.

Waqab – secara bahasa berarti Kejahatan. Jadi itu seperti kita meminta Allah untuk melindungi kita dari kejahatan kegelapan saat semakin malam. Jadi kenapa kata waqab digunakan?  waqab ad-dhalam = kegelapan jadi benda-benda tidak terlihat. Waqaba mirip seperti adanya parit di gunung pada malam hari kemudian ketika ada sesuatu jatuh kedalamnya, kita tidak dapat melihatnya.

A’uudzu merupakan mencari perlindungan dari benda-benda yang tidak dapat kita lihat. Saat banyak sesuatu yang mengintai kita saat malam hari dan kita tidak dapat melihat. Namun Ghaasiq biasanya menyatakan ke bulan, dan saat bulan juga mempengaruhi arus pasang dan surut pada air laut. Tubuh manusia juga mempunyai efek dari gaya magnet dari bulan sehingga manusia lebih condong menjadi lebih jahat. Dari jaman dahulu, bulan dianggap mempengaruhi tindakan manusia saat malam. Allah mengajarkan kita banyak hal-hal yang tidak kita sadari. Orang-orang yang suka pergi dugem dan pergi malam, mereka perlu segera berhenti melakukan itu. Mereka tidak bisa membaca Al Falaq dan melakukan tindakan yang kontradiksi dengan ajaran Rasulullah SAW.

 

Tadabbur Surat ke 113 Al Falaq – 2

 

113_2

Tiga kata-kata yang digunakan untuk menunjukkan kejahatan dalam Qur’an, yaitu:

  1. Syarr ialah lawan kata dari khayr. Secara umum berarti kejahatan yang akan menyebabkan seseorang terluka. Syaraara berarti percikan api yang dapat membahayakan kita
  2. Bi’sa ialah saat kita merasakan sesuatu itu menjijikkan. Itu merupakan lawan kata dari Ni’ma yang berarti enjoy
  3. Sa’a (sayi’a) – Jahat dan jelek. Ini merupakan lawan kata dari hasuna (indah dan cantik).

Min Syarri maa khalaq, syarri dari apa yang Dia ciptakan. Aku meminta perlindungan kepada Allah dari apa yang Dia ciptakan. Dialah yang menciptakan segalanya maka hanya Dia yang bisa melindungi dari kejahatan makhluk-makhluknya. Dia memiliki kuasa atas seluruh ciptaan-Nya. Kesempurnaan itu hanyalah milik Allah, yang lain memiliki kekurangan atau kelemahan. Matahari, air, bumi, manusia dan setiap ciptaan akan punya potensi membahayan dalam setiap ciptaan. Jadi kita meminta Allah untuk melindungi kita semua dari potensi bahaya semua yang Dia ciptakan.

 

 

Tadabbur Surat ke 113 Al Falaq – 1

Ayat 1

113_1.JPG

Pada ayat pertama, Allah menyuruh kita untuk meminta dan masuk ke dalam perlindungan. A’udzu berarti aku menyerahkan diriku dan masuk ke dalam perlindungan. Pada statement ini kita menyerahkan diri kita ke sesuatu yang lebih kuat dan masuk ke dalam perlindungan. Jadi kita secara rendah hati masuk ke dalam perlindungan Allah SWT.

Falaq – Fal-laqa berarti untuk merobek sesuatu dan kemudian ada sesuatu keluar dari hasil robekan tersebut.  Sebagai contoh, saat merobek bantal kemudian bulu-bulu bantal keluar. Atau saat sinar matahari memecah kegelapan di pagi hari.

Ada beberapa ulama yang memuat teori Big Bang menjadi tafsir dari Falaq ini. Berarti bahwa alam semesta ini muncul dari titik asal ini kemudian terbentuk dan mengembang. Jadi Falaq mirip dengan arti “dibuat”karena semua kehidupan datang menjadi nyata setelah merobek sesuatu.

Falaq ini berarti “daybreak” waktu pagi saat sinar matahari merobek gelapnya malam, segala sesuatu yang terbentuk setelah merobek sesuatu termasuk manusia, tanaman, binatang, langit dan lainnya.

Allah menandakan bahwa Dialah Tuan kelahiran, kehidupan. Karena perobekan ini menandakan keterbukaan ; kelahiran hari dari malam, kelahiran hujan merobek awan yang kemudian memberi hidup kepada
bumi yang matimemberikan kehidupan, menyediakan makanan hidup bagi semua makhluk hidup – yang melahirkan anak-anaknya.

Dalam surat ini, kita meminta perlindungan Allah dari bahaya-bahaya yang tidak terlihat. Surat ini merupakan manifestasi dari surat sebelumnya yaitu mengenai Tauhid. Surat ini ialah mengenai seseorang yang ditempatkan dalam kesulitan psikologi dan sosial.

  • Sihir – seseorang menyusahkan diri kita dari faktor internal ataupun eksternal
  • Iri merupakan perasaan dimana seseorang dapat membahayakan diri kita
  • Malam merupakan waktu takut karena kegelapan

Falaq bisa berarti merobek semua masalah yang kita punya. Itu seperti Allah memberikan waktu terbukanya setelah waktu-waktu sulit dan sekarang Allah memberikan relaksasi setelah susahnya masa-masa kita. Tuan yang merobek segala sesuatu terbuka dan membawa kamu dari masa kegelapan menuju cahaya.

Qul – Katakanlah

Kata Qul pada konteks surat ini berarti Allah menginginkan manusia untuk mendeklarasikan kelemahannya dengan lidahnya. Jadi Allah menginginkan manusia untuk bilang bahwa dia lemah, bahwa dia memerlukan pertolongan dan oleh karena itu dia memerlukan pertolongan dari Allah. Allah yang Paling Besar dari manusia. Sebuah tindakan kepasrahan dan ketidakberdayaan.

Karena banyak manusia yang sombong, maka egonya akan mencegah mereka dari meminta perlindungan dan ketika mereka berada di posisi yang membutukan pertolongan maka mereka akan meminta secara berbisik “akankah Engkau membantuku?”. Allah menyuruh kita untuk rendah hati dan meminta kepada-Nya secara langsung.

Kata Qul (katakanlah) –  menghilangkan arogansi dan kesombongan (istighna) yaitu berpikir bahwa kita serba cukup. Allah menghilangkan setiap atom kebanggaan dalam dada kita. Menyatakan ketidaksanggupan ini akan menghilangkan dua hal yaitu ego dan harga diri kita. Memiliki rasa aman karena berasal dari kemampuan kira sendiri merupakan betuk kesyirikan. Allah berfirman di surat Al -‘Alaq “kalla inna al insaana la yatgha, ar-Ra’aahu astaghnaa (Sesungguhnya tidak, sesungguhnya manusia itu pemberontak, dia melihat dirinya bisa mencukupi diri sendiri)”. Surat ini mematikan ego kita. Katakanlah ialah merupakan sebuah perintah, jadi saat kita minta dengan berdoa kepada Allah, kita sudah mematuhi sebuah perintah. Hal ini berarti kata Rabb di ayat ini menunjukkan kehadiran seorang Master/Tuan.

 

Tadabbur Surat ke 114 An Naas – ayat 5 s/d 6

Ayat 5

114_5

Allah mengulanginya kembali, walaupun bisikan ini disebutkan di ayat sebelumnya. Yang secara terus menerus berbisik (waswasa) dan akan terus secara terus menerus untuk berbisik.

Jika waswasa sebelumnya berbentuk kata benda (noun) yang berarti pembisik, maka pada kata ini yuwaswisu dalam bentuk kata kerja (verb) yaitu saat dia sedang maju ke dada manusia untuk berbisik sekarang dan seterusnya. Jadi tidak ada waktu yg kosong dari bisikan syaithan kecuali kita selalu berzikir dan meminta perlindungan Allah SWT.

Fii shuduurinnaas. Yang berbisik ke dalam dada manusia. Allah tidak berfirman ilaa (kepada) atau ‘ala (pada) dada manusia. Fii berarti ke dalam – sudoor berarti dada manusia.

Berbisik ke dalam dada berbeda dengan berbisik ke dalam hati. Bayangkan jika hati ialah sebuah istana dan di sekitar istana ada sebuah lapangan. Syaithan berada di lapangan tersebut, mencari cara untuk masuk ke dalam. Namun hati/istana tersebut terkunci. Satu-satunya cara untuk masuk ialah jika pintu istananya dibukakakn. Jika kita masuk ke dalam perlindungan Allah – maka syaithan akan mundur dari istana, menunggu kesempatan lagi. Namun, jika kita biarkan dia masuk maka kita akan semakin jauh dari Allah. Ketika syaithan masuk ke dalam dada kita maka keburukan akan terlihat baik dan kebaikan akan terlihat lelah dan capek.

Ayat 6

114_6

Dari ayat ini, Allah menjelaskan bahwa yang berbisik itu bisa dari dua golongan yaitu Jin dan Manusia. Ketika syaithan membisikkan kejahatan lewat jin maka manusia kadang tidak terlalu merasakan, dia hanya merasakan adanya dorongan untuk berbuat keburukan. Sementara, jika dari golongan manusia, maka dia bisa melihat dari seorang manusia yang mengajaknya melakukan keburukan.

Sebagai contoh, Ketika seorang pemuda berusaha untuk menundukkan pandangannya, maka mungkin ada perempuan non muslim yang menggodanya lewat jalan lain seperti belajar bersama dan lainnya. Hal ini membuatnya tergoda jatuh hati kepadanya dan perbuatan tercela lainnya. Setelah itu, ketika dia sendirian, jin akan menggodanya untuk melakukan tindakan-tindakan tercela seperti masturbasi dan menonton hal-hal porno.

Hal inilah yang membuat sunnah untuk memanjangkan jenggot ini dilakukan. Karena  dengan memanjangkan jenggot maka kita akan malu ketika melakukan perbuatan tercela. Karena kita sadar bahwa jenggot panjang itu merupakan sunnah dari Rasul dan Rasul akan sangat sedih ketika ada pengikutnya melakukan perbuatan dosa.

Kesimpulan

  1. Surat An-Naas ini memiliki kemiripan dengan Al Fatihah. Di dalam surat Al Fatihah, kita meminta pertolongan untuk mendapatkan petunjuk, sementara di surat ini kita meminta Allah untuk perlindungan.
  2. Tiga nama Allah diulang dalam kedua surat ini. Rabb, Malik dan Ilah yang berarti hanya kepada-Mu kami menghamba dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.
  3. Allah menyuruh kita untuk meminta perlindungan kepada-Nya terhadap godaan Syaithan.Karena godaan tersebut telah ada semenjak Nabi Adam AS hingga sekarang.
  4. Waswasa syaithan ialah untuk mempromosikan penghapusan rasa malu. Karena seperti di QS.2:268 dimana syaithan menggoda manusia untuk melakukan tindakan yang memalukan seperti berzina, mabuk, mengambil hak orang lain, mencuri, bertengkar dll.