Monthly Archives: January 2017

Bertikai dengan sesama muslim masuk neraka

Persaudaraan dalam muslim sangat dijunjung dan diajarkan oleh Rasulullah. Kali ini kita mencoba mengambil hikmah dalam hadis shahih dari Bukhari sebagai berikut:

“Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Al Mubarak Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid Telah menceritakan kepada kami Ayyub dan Yunus dari Al Hasan dari Al Ahnaf bin Qais berkata; aku datang untuk menolong seseorang kemudian bertemu Abu Bakrah, maka dia bertanya: Kamu mau kemana? Aku jawab: hendak menolong seseorang. dia berkata: Kembalilah, karena aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika dua orang muslim saling bertemu (untuk berkelahi) dengan menghunus pedang masing-masing, maka yang terbunuh dan membunuh masuk neraka. aku pun bertanya: Wahai Rasulullah, ini bagi yang membunuh, tapi bagaimana dengan yang terbunuh? Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: Dia juga sebelumnya sangat ingin untuk membunuh temannya. (HR.bukhari No : 30)”

Dari hadis ini, ketika kita melihat ada dua rekan sesama muslim yang berantem hanya gara-gara persoalan sepele apalagi terkait dengan duniawi maka sebaiknya jika bisa kita membantu mendamaikan. Mendamaikan dengan mengingatkan kepada mereka yang bertikai mengenai bagaimana Rasulullah memandang dua orang muslim yang berkelahi sampai ingin membunuh.

Hal yang bisa kita ambil contoh seperti tawuran dan segala bentuk kekerasan yang terjadi di masyarakat. Tawuran antar murid sekolah, mahasiswa hingga para fans klub sepakbola. Mereka tidak melihat bahwa orang yang dianggap musuh baginya ialah juga muslim dan mereka hanya berkelahi hanya gara-gara fanatisme terhadap kelompok dan golongannya.

Semoga kita semua dan keluarga dapat terlindung dari permusuhan seperti ini yang mengakibatkan perpecahan di tubuh umat Islam.

Advertisements

Tadabbur Surat ke 113 Al Falaq – 3

113_3

Ghaasiqin berasal dari kata ghasaq yaitu bagian pertama saat malam. Ketika langit biru telah pergi maka langit menjadi hitam. Kata Ghaasiq dalam literatur arab berarti yang hilang seperti saat matahari hilang maka keadaan menjadi gelap. Ghasaq al Qamar berarti gerhana bulan. Allah berfirman bahwa waktu saat malam yang benar-benar gelap.

Min syarri ghaasiqin -dari kejahatan malam. Rasulullah menghindari sahabat-sahabatnya dari keluar saat malam. “Jika kalian tahu apa yang saya tahu, maka kamu tidak akan keluar saat malam.” Syaithan pada berkumpul di laut saat malam. Dalam kondisi sosial kita sekarang, banyak manusia melakukan tindak kejahatan saat waktu malam. Nightclub, narkoba, minum alkohol, berzina dan lainnya. Potensi kejahatan saat waktu malam semakin lebih besar. Jadi kita minta Allah untuk melindungi kita dari kejahatan saat gelap.

Waqab – secara bahasa berarti Kejahatan. Jadi itu seperti kita meminta Allah untuk melindungi kita dari kejahatan kegelapan saat semakin malam. Jadi kenapa kata waqab digunakan?  waqab ad-dhalam = kegelapan jadi benda-benda tidak terlihat. Waqaba mirip seperti adanya parit di gunung pada malam hari kemudian ketika ada sesuatu jatuh kedalamnya, kita tidak dapat melihatnya.

A’uudzu merupakan mencari perlindungan dari benda-benda yang tidak dapat kita lihat. Saat banyak sesuatu yang mengintai kita saat malam hari dan kita tidak dapat melihat. Namun Ghaasiq biasanya menyatakan ke bulan, dan saat bulan juga mempengaruhi arus pasang dan surut pada air laut. Tubuh manusia juga mempunyai efek dari gaya magnet dari bulan sehingga manusia lebih condong menjadi lebih jahat. Dari jaman dahulu, bulan dianggap mempengaruhi tindakan manusia saat malam. Allah mengajarkan kita banyak hal-hal yang tidak kita sadari. Orang-orang yang suka pergi dugem dan pergi malam, mereka perlu segera berhenti melakukan itu. Mereka tidak bisa membaca Al Falaq dan melakukan tindakan yang kontradiksi dengan ajaran Rasulullah SAW.

 

Tadabbur Surat ke 113 Al Falaq – 2

 

113_2

Tiga kata-kata yang digunakan untuk menunjukkan kejahatan dalam Qur’an, yaitu:

  1. Syarr ialah lawan kata dari khayr. Secara umum berarti kejahatan yang akan menyebabkan seseorang terluka. Syaraara berarti percikan api yang dapat membahayakan kita
  2. Bi’sa ialah saat kita merasakan sesuatu itu menjijikkan. Itu merupakan lawan kata dari Ni’ma yang berarti enjoy
  3. Sa’a (sayi’a) – Jahat dan jelek. Ini merupakan lawan kata dari hasuna (indah dan cantik).

Min Syarri maa khalaq, syarri dari apa yang Dia ciptakan. Aku meminta perlindungan kepada Allah dari apa yang Dia ciptakan. Dialah yang menciptakan segalanya maka hanya Dia yang bisa melindungi dari kejahatan makhluk-makhluknya. Dia memiliki kuasa atas seluruh ciptaan-Nya. Kesempurnaan itu hanyalah milik Allah, yang lain memiliki kekurangan atau kelemahan. Matahari, air, bumi, manusia dan setiap ciptaan akan punya potensi membahayan dalam setiap ciptaan. Jadi kita meminta Allah untuk melindungi kita semua dari potensi bahaya semua yang Dia ciptakan.

 

 

Tadabbur Surat ke 113 Al Falaq – 1

Ayat 1

113_1.JPG

Pada ayat pertama, Allah menyuruh kita untuk meminta dan masuk ke dalam perlindungan. A’udzu berarti aku menyerahkan diriku dan masuk ke dalam perlindungan. Pada statement ini kita menyerahkan diri kita ke sesuatu yang lebih kuat dan masuk ke dalam perlindungan. Jadi kita secara rendah hati masuk ke dalam perlindungan Allah SWT.

Falaq – Fal-laqa berarti untuk merobek sesuatu dan kemudian ada sesuatu keluar dari hasil robekan tersebut.  Sebagai contoh, saat merobek bantal kemudian bulu-bulu bantal keluar. Atau saat sinar matahari memecah kegelapan di pagi hari.

Ada beberapa ulama yang memuat teori Big Bang menjadi tafsir dari Falaq ini. Berarti bahwa alam semesta ini muncul dari titik asal ini kemudian terbentuk dan mengembang. Jadi Falaq mirip dengan arti “dibuat”karena semua kehidupan datang menjadi nyata setelah merobek sesuatu.

Falaq ini berarti “daybreak” waktu pagi saat sinar matahari merobek gelapnya malam, segala sesuatu yang terbentuk setelah merobek sesuatu termasuk manusia, tanaman, binatang, langit dan lainnya.

Allah menandakan bahwa Dialah Tuan kelahiran, kehidupan. Karena perobekan ini menandakan keterbukaan ; kelahiran hari dari malam, kelahiran hujan merobek awan yang kemudian memberi hidup kepada
bumi yang matimemberikan kehidupan, menyediakan makanan hidup bagi semua makhluk hidup – yang melahirkan anak-anaknya.

Dalam surat ini, kita meminta perlindungan Allah dari bahaya-bahaya yang tidak terlihat. Surat ini merupakan manifestasi dari surat sebelumnya yaitu mengenai Tauhid. Surat ini ialah mengenai seseorang yang ditempatkan dalam kesulitan psikologi dan sosial.

  • Sihir – seseorang menyusahkan diri kita dari faktor internal ataupun eksternal
  • Iri merupakan perasaan dimana seseorang dapat membahayakan diri kita
  • Malam merupakan waktu takut karena kegelapan

Falaq bisa berarti merobek semua masalah yang kita punya. Itu seperti Allah memberikan waktu terbukanya setelah waktu-waktu sulit dan sekarang Allah memberikan relaksasi setelah susahnya masa-masa kita. Tuan yang merobek segala sesuatu terbuka dan membawa kamu dari masa kegelapan menuju cahaya.

Qul – Katakanlah

Kata Qul pada konteks surat ini berarti Allah menginginkan manusia untuk mendeklarasikan kelemahannya dengan lidahnya. Jadi Allah menginginkan manusia untuk bilang bahwa dia lemah, bahwa dia memerlukan pertolongan dan oleh karena itu dia memerlukan pertolongan dari Allah. Allah yang Paling Besar dari manusia. Sebuah tindakan kepasrahan dan ketidakberdayaan.

Karena banyak manusia yang sombong, maka egonya akan mencegah mereka dari meminta perlindungan dan ketika mereka berada di posisi yang membutukan pertolongan maka mereka akan meminta secara berbisik “akankah Engkau membantuku?”. Allah menyuruh kita untuk rendah hati dan meminta kepada-Nya secara langsung.

Kata Qul (katakanlah) –  menghilangkan arogansi dan kesombongan (istighna) yaitu berpikir bahwa kita serba cukup. Allah menghilangkan setiap atom kebanggaan dalam dada kita. Menyatakan ketidaksanggupan ini akan menghilangkan dua hal yaitu ego dan harga diri kita. Memiliki rasa aman karena berasal dari kemampuan kira sendiri merupakan betuk kesyirikan. Allah berfirman di surat Al -‘Alaq “kalla inna al insaana la yatgha, ar-Ra’aahu astaghnaa (Sesungguhnya tidak, sesungguhnya manusia itu pemberontak, dia melihat dirinya bisa mencukupi diri sendiri)”. Surat ini mematikan ego kita. Katakanlah ialah merupakan sebuah perintah, jadi saat kita minta dengan berdoa kepada Allah, kita sudah mematuhi sebuah perintah. Hal ini berarti kata Rabb di ayat ini menunjukkan kehadiran seorang Master/Tuan.

 

Tadabbur Surat ke 114 An Naas – ayat 5 s/d 6

Ayat 5

114_5

Allah mengulanginya kembali, walaupun bisikan ini disebutkan di ayat sebelumnya. Yang secara terus menerus berbisik (waswasa) dan akan terus secara terus menerus untuk berbisik.

Jika waswasa sebelumnya berbentuk kata benda (noun) yang berarti pembisik, maka pada kata ini yuwaswisu dalam bentuk kata kerja (verb) yaitu saat dia sedang maju ke dada manusia untuk berbisik sekarang dan seterusnya. Jadi tidak ada waktu yg kosong dari bisikan syaithan kecuali kita selalu berzikir dan meminta perlindungan Allah SWT.

Fii shuduurinnaas. Yang berbisik ke dalam dada manusia. Allah tidak berfirman ilaa (kepada) atau ‘ala (pada) dada manusia. Fii berarti ke dalam – sudoor berarti dada manusia.

Berbisik ke dalam dada berbeda dengan berbisik ke dalam hati. Bayangkan jika hati ialah sebuah istana dan di sekitar istana ada sebuah lapangan. Syaithan berada di lapangan tersebut, mencari cara untuk masuk ke dalam. Namun hati/istana tersebut terkunci. Satu-satunya cara untuk masuk ialah jika pintu istananya dibukakakn. Jika kita masuk ke dalam perlindungan Allah – maka syaithan akan mundur dari istana, menunggu kesempatan lagi. Namun, jika kita biarkan dia masuk maka kita akan semakin jauh dari Allah. Ketika syaithan masuk ke dalam dada kita maka keburukan akan terlihat baik dan kebaikan akan terlihat lelah dan capek.

Ayat 6

114_6

Dari ayat ini, Allah menjelaskan bahwa yang berbisik itu bisa dari dua golongan yaitu Jin dan Manusia. Ketika syaithan membisikkan kejahatan lewat jin maka manusia kadang tidak terlalu merasakan, dia hanya merasakan adanya dorongan untuk berbuat keburukan. Sementara, jika dari golongan manusia, maka dia bisa melihat dari seorang manusia yang mengajaknya melakukan keburukan.

Sebagai contoh, Ketika seorang pemuda berusaha untuk menundukkan pandangannya, maka mungkin ada perempuan non muslim yang menggodanya lewat jalan lain seperti belajar bersama dan lainnya. Hal ini membuatnya tergoda jatuh hati kepadanya dan perbuatan tercela lainnya. Setelah itu, ketika dia sendirian, jin akan menggodanya untuk melakukan tindakan-tindakan tercela seperti masturbasi dan menonton hal-hal porno.

Hal inilah yang membuat sunnah untuk memanjangkan jenggot ini dilakukan. Karena  dengan memanjangkan jenggot maka kita akan malu ketika melakukan perbuatan tercela. Karena kita sadar bahwa jenggot panjang itu merupakan sunnah dari Rasul dan Rasul akan sangat sedih ketika ada pengikutnya melakukan perbuatan dosa.

Kesimpulan

  1. Surat An-Naas ini memiliki kemiripan dengan Al Fatihah. Di dalam surat Al Fatihah, kita meminta pertolongan untuk mendapatkan petunjuk, sementara di surat ini kita meminta Allah untuk perlindungan.
  2. Tiga nama Allah diulang dalam kedua surat ini. Rabb, Malik dan Ilah yang berarti hanya kepada-Mu kami menghamba dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.
  3. Allah menyuruh kita untuk meminta perlindungan kepada-Nya terhadap godaan Syaithan.Karena godaan tersebut telah ada semenjak Nabi Adam AS hingga sekarang.
  4. Waswasa syaithan ialah untuk mempromosikan penghapusan rasa malu. Karena seperti di QS.2:268 dimana syaithan menggoda manusia untuk melakukan tindakan yang memalukan seperti berzina, mabuk, mengambil hak orang lain, mencuri, bertengkar dll.

Mari kita memberi makan dan salam kepada orang lain

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Khalid berkata, Telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yazid dari Abu Al Khair dari Abdullah bin ‘Amru; Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Islam manakah yang paling baik?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal“. (HR. Bukhari no 9).

Dari ajaran Nabi Muhammad SAW ini, Islam mengajarkan rasa sosial yang tinggi terhadap orang lain. Dimana Rasulullah SAW mengajarkan jika ada dua orang muslim maka muslim yang satu dapat derajat lebih baik jika muslim tersebut memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang lain baik itu yang kita kenal atau tidak kenal.

Menjadi muslim yang paling baik ini tentunya setelah orang tersebut dapat menjalankan perintah dan larangan Allah SWT. Jika kita hanya mengambil hadist ini saja namun kita tidak menjalankan shalat dan rukun-rukun islam lainnya maka hal tersebut tidak disebut muslim yang paling baik. Setelah kita jalankan rukun-rukun islam dan mentaati perintah Allah SWT yang ada di Al Quran maka kita seharusnya keluar dari hubungan hablum minallah menjadi hablum minannaas.

Beberapa action plan terkait hadist ini yang dapat kita kerjakan ialah sebagai berikut:

  1. Program Berbagi Makanan
    • Kita bisa mulai dengan membuat rencana seperti mengundang tetangga untuk makan bersama atau mentraktir rekan atau kawan-kawan sekantor atau sekampus dalam beberapa waktu tertentu. Selain itu, yang lebih baik ialah kita dapat memberi makan orang-orang yang memang membutuhkan seperti pengemis, anak jalanan dan orang yang memang masih kekurangan.
  2. Mengucapkan salam kepada orang lain
    • Saat kita berada di tempat umum maka Rasulullah menganjurkan untuk mengucapkan salam (Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh) kepada muslim yang lain. Baik itu kita kenal dengan orang tersebut ataupun memang kita tidak kenal. Seperti saat di pertemuan keluarga, resepsi pernikahan, kampus, pertemuan di kantor dll. Hal ini akan menunjukkan bahwa seorang muslim peduli dan tidak sombong terhadap orang lain.

Semoga kita dapat menerapkan hadist ini di dalam kehidupan sehari-hari.

Menjaga mulut dan tangan terhadap muslim lain

Kali ini kita membahas mengenai hadis riwayat Bukhari nomer 9 yang menyatakan sebagai berikut:

“Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abu Iyas berkata, Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdullah bin Abu As Safar dan Isma’il bin Abu Khalid dari Asy Sya’bi dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah”
Dari hadis ini, Rasulullah mengajarkan ke kita untuk menjaga lisan dan tangan kita terhadap muslim yang lain agar muslim lain selamat atas lisan dan tangan kita. Artinya ialah kita tidak mengejek, mencibir dan berkata buruk mengenai muslim lain. Jika kita tidak setuju atau tidak menyukai muslim lain maka kita sebaiknya diam atau berdiskusi langsung dengannya dengan baik.
Jika berbicara yang tidak baik dengan muslim saja bukan merupakan ciri seorang muslim, apalagi jika seseorang menzalimi muslim yang lainnya. Seperti berantem dengan tangannya, menyakiti muslim tersebut, atau dengan kebijakannya menjadikan muslim yang lain tidak selamat maka hal itu bukanlah sifat seorang muslim.
Maka menjadi seorang muslim bukan hanya untuk seorang diri tersebut. Namun menjadi seorang muslim ialah ketika dia dapat berbicara dan bertingkah laku dengan baik kepada muslim yang lain seperti kepada istrinya, anaknya, orang tuanya dan saudara-saudaranya.