Tadabbur Surat ke 114 An Naas – ayat 5 s/d 6

Ayat 5

114_5

Allah mengulanginya kembali, walaupun bisikan ini disebutkan di ayat sebelumnya. Yang secara terus menerus berbisik (waswasa) dan akan terus secara terus menerus untuk berbisik.

Jika waswasa sebelumnya berbentuk kata benda (noun) yang berarti pembisik, maka pada kata ini yuwaswisu dalam bentuk kata kerja (verb) yaitu saat dia sedang maju ke dada manusia untuk berbisik sekarang dan seterusnya. Jadi tidak ada waktu yg kosong dari bisikan syaithan kecuali kita selalu berzikir dan meminta perlindungan Allah SWT.

Fii shuduurinnaas. Yang berbisik ke dalam dada manusia. Allah tidak berfirman ilaa (kepada) atau ‘ala (pada) dada manusia. Fii berarti ke dalam – sudoor berarti dada manusia.

Berbisik ke dalam dada berbeda dengan berbisik ke dalam hati. Bayangkan jika hati ialah sebuah istana dan di sekitar istana ada sebuah lapangan. Syaithan berada di lapangan tersebut, mencari cara untuk masuk ke dalam. Namun hati/istana tersebut terkunci. Satu-satunya cara untuk masuk ialah jika pintu istananya dibukakakn. Jika kita masuk ke dalam perlindungan Allah – maka syaithan akan mundur dari istana, menunggu kesempatan lagi. Namun, jika kita biarkan dia masuk maka kita akan semakin jauh dari Allah. Ketika syaithan masuk ke dalam dada kita maka keburukan akan terlihat baik dan kebaikan akan terlihat lelah dan capek.

Ayat 6

114_6

Dari ayat ini, Allah menjelaskan bahwa yang berbisik itu bisa dari dua golongan yaitu Jin dan Manusia. Ketika syaithan membisikkan kejahatan lewat jin maka manusia kadang tidak terlalu merasakan, dia hanya merasakan adanya dorongan untuk berbuat keburukan. Sementara, jika dari golongan manusia, maka dia bisa melihat dari seorang manusia yang mengajaknya melakukan keburukan.

Sebagai contoh, Ketika seorang pemuda berusaha untuk menundukkan pandangannya, maka mungkin ada perempuan non muslim yang menggodanya lewat jalan lain seperti belajar bersama dan lainnya. Hal ini membuatnya tergoda jatuh hati kepadanya dan perbuatan tercela lainnya. Setelah itu, ketika dia sendirian, jin akan menggodanya untuk melakukan tindakan-tindakan tercela seperti masturbasi dan menonton hal-hal porno.

Hal inilah yang membuat sunnah untuk memanjangkan jenggot ini dilakukan. Karena  dengan memanjangkan jenggot maka kita akan malu ketika melakukan perbuatan tercela. Karena kita sadar bahwa jenggot panjang itu merupakan sunnah dari Rasul dan Rasul akan sangat sedih ketika ada pengikutnya melakukan perbuatan dosa.

Kesimpulan

  1. Surat An-Naas ini memiliki kemiripan dengan Al Fatihah. Di dalam surat Al Fatihah, kita meminta pertolongan untuk mendapatkan petunjuk, sementara di surat ini kita meminta Allah untuk perlindungan.
  2. Tiga nama Allah diulang dalam kedua surat ini. Rabb, Malik dan Ilah yang berarti hanya kepada-Mu kami menghamba dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.
  3. Allah menyuruh kita untuk meminta perlindungan kepada-Nya terhadap godaan Syaithan.Karena godaan tersebut telah ada semenjak Nabi Adam AS hingga sekarang.
  4. Waswasa syaithan ialah untuk mempromosikan penghapusan rasa malu. Karena seperti di QS.2:268 dimana syaithan menggoda manusia untuk melakukan tindakan yang memalukan seperti berzina, mabuk, mengambil hak orang lain, mencuri, bertengkar dll.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: