Mari kita memberi makan dan salam kepada orang lain

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Khalid berkata, Telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yazid dari Abu Al Khair dari Abdullah bin ‘Amru; Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Islam manakah yang paling baik?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal“. (HR. Bukhari no 9).

Dari ajaran Nabi Muhammad SAW ini, Islam mengajarkan rasa sosial yang tinggi terhadap orang lain. Dimana Rasulullah SAW mengajarkan jika ada dua orang muslim maka muslim yang satu dapat derajat lebih baik jika muslim tersebut memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang lain baik itu yang kita kenal atau tidak kenal.

Menjadi muslim yang paling baik ini tentunya setelah orang tersebut dapat menjalankan perintah dan larangan Allah SWT. Jika kita hanya mengambil hadist ini saja namun kita tidak menjalankan shalat dan rukun-rukun islam lainnya maka hal tersebut tidak disebut muslim yang paling baik. Setelah kita jalankan rukun-rukun islam dan mentaati perintah Allah SWT yang ada di Al Quran maka kita seharusnya keluar dari hubungan hablum minallah menjadi hablum minannaas.

Beberapa action plan terkait hadist ini yang dapat kita kerjakan ialah sebagai berikut:

  1. Program Berbagi Makanan
    • Kita bisa mulai dengan membuat rencana seperti mengundang tetangga untuk makan bersama atau mentraktir rekan atau kawan-kawan sekantor atau sekampus dalam beberapa waktu tertentu. Selain itu, yang lebih baik ialah kita dapat memberi makan orang-orang yang memang membutuhkan seperti pengemis, anak jalanan dan orang yang memang masih kekurangan.
  2. Mengucapkan salam kepada orang lain
    • Saat kita berada di tempat umum maka Rasulullah menganjurkan untuk mengucapkan salam (Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh) kepada muslim yang lain. Baik itu kita kenal dengan orang tersebut ataupun memang kita tidak kenal. Seperti saat di pertemuan keluarga, resepsi pernikahan, kampus, pertemuan di kantor dll. Hal ini akan menunjukkan bahwa seorang muslim peduli dan tidak sombong terhadap orang lain.

Semoga kita dapat menerapkan hadist ini di dalam kehidupan sehari-hari.

Menjaga mulut dan tangan terhadap muslim lain

Kali ini kita membahas mengenai hadis riwayat Bukhari nomer 9 yang menyatakan sebagai berikut:

“Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abu Iyas berkata, Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdullah bin Abu As Safar dan Isma’il bin Abu Khalid dari Asy Sya’bi dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah”
Dari hadis ini, Rasulullah mengajarkan ke kita untuk menjaga lisan dan tangan kita terhadap muslim yang lain agar muslim lain selamat atas lisan dan tangan kita. Artinya ialah kita tidak mengejek, mencibir dan berkata buruk mengenai muslim lain. Jika kita tidak setuju atau tidak menyukai muslim lain maka kita sebaiknya diam atau berdiskusi langsung dengannya dengan baik.
Jika berbicara yang tidak baik dengan muslim saja bukan merupakan ciri seorang muslim, apalagi jika seseorang menzalimi muslim yang lainnya. Seperti berantem dengan tangannya, menyakiti muslim tersebut, atau dengan kebijakannya menjadikan muslim yang lain tidak selamat maka hal itu bukanlah sifat seorang muslim.
Maka menjadi seorang muslim bukan hanya untuk seorang diri tersebut. Namun menjadi seorang muslim ialah ketika dia dapat berbicara dan bertingkah laku dengan baik kepada muslim yang lain seperti kepada istrinya, anaknya, orang tuanya dan saudara-saudaranya.

Tadabbur Surat ke 114 An Naas – ayat 1 s/d 4

Pendahuluan

Hubungan An Naas dengan Al Falaq

  1. Dari semua ciptaan Allah, siapa yang paling cemburu terhadap kamu (orang beriman)? dia adalah Iblis. “… dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” QS.2:168. Surat ini melindungi kita dari yang paling cemburu –min sharri al waswaas al khannaas– dari setan yang berbisik ketika dia maju mundur. Setan menghasut orang lain untuk cemburu kepada orang-orang beriman dan menyakiti mereka. Jadi kita mengenali masalah lahiriah yang disebutkan dalam surah Falaq, tetapi kita dapat mengenali informasi lebih spesifik sebagai akar penyebab utama dari masalah kedengkian ini. Setanlah yang menempatkan waswasa (bisikan) ke dalam hati orang-orang. Pada surat Al Falaq, Allah melindungi kita dari bahaya kejahatan eksternal. Pada surat An Naas, Allah melindungi kita dari kejahatan yang mempengaruhi kita dalam diri kita sendiri yaitu bisikan yang membahayakan kita di dalam dan bisa melemahkan iman kita karena ragu-ragu atau bisikan yang menarik diri kita menuju kejahatan.
  2. Dalam surat Al Falaq, ada kejahatan yang berbahaya bagi kita, tetapi di luar kendali kitaSeseorang yang melakukan kejahatan tersebut terhadap kita (yaitu sihir, iri dll) akan berdosa. Dalam surat An Naas, ada kejahatan yang dibisikkan kepada kita. Jika kita melakukan kejahatan yang dibisikkan tersebut maka kita sendiri yang akan berdosa. Jadi dalam surat ini, digambarkan situasi yang lebih gawat untuk iman kita.
  3. Dalam surat Al Falaq disebutkan bahwa kita bisa mendapat bahaya dalam urusan di dunia. Dalam surat An-Naas, bahaya yang bisa kita dapat dalam urusan agama. Jadi kita banyak meminta perlindungan Allah dalam surat An Naas dengan Nama-Nya yang lebih banyak daripada di surat Al Falaq yang hanya menyebutkan Rabb satu kali. Hal ini menunjukkan lebih kritikalnya untuk agama kita dalam surat ini.
  4.  Di surat An-Naas lebih banyak ditekankan mencari perlindungan dengan Allah. Jika dibandingkan dengan surat Al Falaq yang lebih banyak penekanan pada mencari perlindungan terhadap berbagai kejahatan. Jadi ada hubungan antara kedua surat ini:
    • Al Falaq menyebutkan Rabb (Tuhan) sekali dan banyak kejahatan
    • An-Naas menyebutkan satu kejahatan (waswasa/bisikan dari setan) dan menyebutkan Allah beberapa kali

Ayat 1

image

Arti: Say, “I take refuge with The Lord of mankind”. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.

  • Qul – Katakanlah

Kata Qul memiliki nilai retoris Sastra di setiap konteks yang dikatakan di seluruh Qur’an. Dalam konteks surat ini, Allah ingin manusia untuk mengumumkan kelemahannya dengan lidahnya sendiri. Jadi Allah ingin manusia untuk mengatakan bahwa dia lemah, dia tidak berdaya, dan bahwa ia membutuhkan bantuan
dari Allah yang lebih besar dari dirinya. Tindakan kerendahan hati dan ketidakberdayaan.

Karena ada beberapa manusia yang arogan, ego mereka akan mencegah mereka dari meminta, dan ketika mereka benar-benar membutuhkan bantuan, mereka mungkin bertanya diam-diam; ‘Akankan kamu menolongku?’. Allah memberitahu kita untuk merendahkan diri dan meminta kepada-Nya dengan keras.

Kata Qul (katakanlah) – menghilangkan arogansi dan Istighna (berpikir salah bahwa Anda bisa mencukupi kebutuhan anda semua sendiri). Allah sedang menghapus setiap atom kebanggaan di hati kita. Membuat pengumuman ini dengan keras, dilakukan karena berbagai alasan. Ini akan menghapus Ego Anda dan kebanggaan diri kemudian juga rasa salah Anda dengan menyatakan “Aku tidak membutuhkan perlindungan”. Jika salah maka kita bisa jatuh ke syirik karena Allah berfirman

alaq 6-7

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,  karena dia melihat dirinya serba cukup. (Al ‘Alaq: 6-7)

Jadi Allah memberitahu kita untuk menyatakan kebutuhan kita pada-Nya secara terbuka. Qul (Katakanlah!) adalah sebuah perintah. Jadi, ketika Anda meminta Allah dengan terbuka, Anda telah taat pada sebuah perintah. Inilah kenapa kata Rabb mengharuskan eksistensi dari seorang Tuan.

Bagaimana bisa bahwa Anda meminta Allah bantuan sementara Anda tidak mematuhi-Nya? Jadi, jika Anda benar-benar ingin bantuan dari Allah, Anda harus berada dalam ketaatan kepada-Nya. Anda masuk ke dalam perlindungan dan ketaatan kepada Allah.

Nabi Musa AS membuktikan hal ini

40.27

Ayat diatas memberitahu kita bahwa ketika seseorang memiliki Iman pada Hari terakhir yang lemah maka ini terjadi ketika kesombongan mereka mencegah mereka dari mencari perlindungan kepada Allah dengan tulus.

Ya Allah, jadikan kita orang-orang yang berlindung kepada Mu secara tulus, rendah hati dan dalam ketaatan. Katakanlah (hai Muhammad – khusus untuk dia, dan umumnya kepada orang-orang); Saya dengan rendah hati dan tulus pergi mencari perlindungan kepada Rabb/Tuan seluruh manusia (al Naas).

  • Rabbu al Naas – Master of the People.

Mengapa Naas (Manusia)? – Karena manusia yang membutuhkan perlindungan di surah ini dari setan. Hal ini seperti mereka mengatakan Aku berlindung melawan kejahatan kepada Dia yang Maha Kuasa atas segala urusan manusia.

Arti kata Rabb memiliki beberapa implikasi. Pemilik mutlak.
Rabbu ‘Abdin = Pemilik budak, atau Rabb al Bayt = pemilik rumah. Maalik juga pemilik. Jadi apa perbedaan antara Rabb dan Maalik? Kepemilikan hanya satu dari makna Rabb, sedangkan Maalik berarti secara eksklusif pemilik. Rabb menandakan kepemilikan. Rabb menandakan satu sifat utama sebagai Master/Tuan dan karena itu ada yang menjadi budak/hamba. Rabb juga menandakan beberapa arti atau sifat seperti al Mun’im (pemberi nikmat), al Qayyim (kuat), al MuRabbi (Yang menjamin pertumbuhan dan kematangan sesuatu), Syed (Yang memiliki otoritas terhadap segala sesuatu), Murshid (Yang Memberi Petunjuk), Mu’ttee (Yang memberi sangat banyak).

Namun konsep utama Rabb adalah Dia menjadi Master/Tuan, dan karena itu kita menjadi budak/hamba.

Anda mungkin memiliki sesuatu yang Anda miliki [Maalik], tetapi Anda tidak memiliki otoritas penuh [Syed] padanya sebagai contoh Anda mungkin memiliki mobil, tetapi Anda tidak bisa mengemudi secepat yang Anda inginkan di dalamnya karena hukum lalu lintas negara. Allah memiliki otoritas penuh dan kepemilikan atas semua ciptaan-Nya.

MuRabbi datangnya bukan dari kata Rabb ر ب (Ra, ba, and ba [Muddaa’af]), tetapi dari akar huruf Ra, Ba, and Waw ر ب و.Tuhanku, kasihanilah kedua orang tua saya, dengan cara yang sama ketika saya masih kecil
kama Rabbanayaani sagheera (surah Israa’). Ini juga datang dari kata rab-baa, tarbiyah. Tarbiyah ini berarti untuk memastikan pertumbuhan dan kematangan sesuatu sehingga mencapai tahap yang Anda inginkan. Sebagai contoh, penyiraman sebuah tanaman dan menyediakan cahaya matahari sehingga tanaman tersebut dapat tumbuh besar maksimum seperti yang Anda inginkan.

Kata Rabb ini (Ra, Ba, Waw) merupakan bagian dari Rabb utama (Ra, Ba, Ba) – karena Tuan/Master ini menumbuhkan kita dan menyediakan segalanya sampai kita mencapai tahap yang Dia telah maksudkan untuk kita capai. Jadi Allah disebut Rabb, termasuk Dia menjadi Murrabi.

Apa artinya ini semua? 

Allah lah Sang Pemilik, Sang Penguasa dan Yang mengurusi semuanya. Bisa saja kita memiliki sesuatu (Maalik), kita memiliki kuasa atasnya (Syed) tetapi kita tidak memperhatikan dan mengurusi itu (MuRabbi). Sebagai contoh, halaman belakang rumah yang tidak terurus atau tidak dibersihkan. Akan tetapi, Allah melakukan hal ini semua bagi kita sebagai Rabb.

Selain itu, Allah memiliki nama seperti Mursyid – panduan ke arah yang benar. Mun’im – memberikan hadiah. Dia tidak perlu memberi kita apa pun namun Ia adalah pemilik semuanya dan memberikan semuanya kepada kita sebagai hadiah. Al Qayyim yaitu Yang memastikan sesuatu itu tetap ada. Kita hanya akan ada karena Allah memelihara keberadaan kita untuk kita. Sebagai contoh, ketika kita akan memelihara tanaman yang perlu perhatian. Jika kita berhenti memperhatikan tanaman tersebut dalam beberapa jam maka tanaman itu akan mati. Maka kita menjadi Qayyim dari tanaman tersebut.

Allah menjadi al Qayyim bagi kita semua, kita tinggal di planet dan alam semesta yang begitu luas dan kacau akan tetapi kita dillindungi dari bahaya-bahaya yang ada. dan Allah tetap menjaga manusia untuk ribuan tahun. Dan meskipun ada potensi bahaya asteroid jatuh ke bumi dan menghancurkan planet ini, namun Allah tetap menjaga hal tersebut hingga waktu yang telah ditentukan oleh-Nya.

Allah menggunakan kata Rabb (Master) bahkan sebelum Dia menyebutkan nama-Nya Allah kepada Nabi Muhammad SAW: “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan” (surah ‘alaq 96:1). Jadi Allah menyebutkan bahwa Dia ialah Rabb/Tuan pertama, sehingga hubungan pertama yang ada adalah antara budak/hamba kepada Sang Penjaga. Kemudian diketahui bahwa Sang Penjaga dan Penyedia tersebut ialah Allah/Tuhan itu sendiri. Demikian juga Allah memuji dirinya di dalam Al Fatihah sebagai Tuhan yang Maha Besar kemudian Dia menyebut bahwa Dialah Rabb/Tuan dan Maha Penyayang. Kemudian di akhir Al Quran, Dia menyebutkan di dalam Surat Al Ikhlas, nama-Nya Allah dan juga pada dua surat setelah itu (Al Falaq dan An Naas) Dia menjelaskan bagaimana Dia sebagai Rabb yang menjaga hamba/budak-budakNya.

Hal ini menyimpulkan seluruh pesan Al Quran dalam satu kalimat “1- Terimalah Allah sebagai Tuan atau Master dan terimalah kita sendiri sebagai budak/hamba Nya. 2- Petunjuk Al Quran ini hanya bermanfaat bagi mereka yang menerima dirinya sebagai hamba/budak Nya. Budak dan Petunjuk

Pokok permasalahannya ialah biasanya orang mengenal Allah yang Maha Pencipta dan juga sebagai Rabb atau Tuan namun mereka tidak mau menghamba dirinya kepada Dia. Untuk menegenal Allah sebagai Tuan berarti kita sebagai hamba atau budak. Jika kita merupakan budak/hamba, kita memiliki peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh setiap budak/hamba. Inilah yang membuat sebagian besar orang tidak mengakui. Mereka yang mematuhi Tuannya – mereka akan berjuang seumur hidupnya, namun pada akhirnya akan menuai hasil perjuangannya. Dan mereka yang tidak mentaati Tuannya, maka hukuman akan datang diakhir. Dalam surat ini, Allah meminta kita untuk meminta perlindungan dalam 3 nama Allah dan sifatnya.

Ayat 2

114_2

Allah mengulang an Naas (manusia) – 3 kali, saat Dia bisa saja berfirman; Rabbi an Naas (Tuan manusia), Maliki mereka (Raja mereka), Illaahi mereka (Tuhan mereka). Namun begitu, Dia mengulang An Naas tiga kali. Kenapa seperti itu?

  1. Orang membutuhkan Yang Maha Menyediakan dan Penyayang (Rabb). Seorang anak mempunyai kebutuhan utama untuk seorang Murrabi (Seorang yang memberikan mereka didikan yang sehat dan baik). Seorang hamba akan menuju Tuannya saat dia sedang dalam kesusahan. Seorang karyawan akan menuju bos mereka.
  2. Akan tetapi jika masalah tidak bisa dipecahkan, orang akan pergi ke seseorang yang memiliki kekuasaan lebih yaitu Sang Raja (Malik). Pemerintahan
  3. Jika raja tersebut tidak bisa memenuhi permintaan tersebut, anda tidak mempunyai alternatif kemana tempat meminta sehingga orang akan berdoa kepada Tuhan (Illaah).

Ayat 3

114_3

Kebanyakan manusia akan datang kepada bos mereka, pemilik, kemudian pemerintah dan terakhir kepada Tuhan. Allah berfirman kepada kita bahwa kecerdasan tertinggi ialah saat seorang hamba datang kepada-Nya secara penuh. Jadi Dia ialah Tuan sebenarnya (Rabb), Dia ialah Raja sebenarnya (Malik) dan Dia ialah Tuhan sebenarnya (Illaah) yang seharusnya kita semua menuju. Nabi Ibrahim yang menginternalisasi proses ini – dia merupakan seseorang yang selalu menuju Allah untuk apapun. Dia mengenal bahwa Allah ialah Satu-satunya yang bisa memperbaiki masalah-masalah dirinya.

Ayat ini berjalan dari bilangan yang banyak ke sedikit. Rabb sebagai Tuan atau Pemilik dari sesuatu dan merawat sesuatu tersebut. Dan banyak lagi pemillik lainnya di dunia ini. Namun untuk komunitas apa aja, berapa banyak raja yang ada? Ada lebih sedikit raja-raja dari jumlah pemilik-pemilik.

Namun ada berapa banyak Illaah/Tuhan yang ada? Satu. Hanya ada Satu Tuhan sesungguhnya. Tidak ada implikasi di dunia untuk kata Tuhan.

QS.2.163

Ketika kita memulai membaca Al Quran maka kita membaca taawudz yaitu aku berlindung kepada Allah dari gangguan syetan yang terkutuk. Dan di surat terakhir Al Quran ditutup dengan surat An-Naas, perlindungan final kepada Allah dari syeitan yang terkutuk.

Kesamaan Syeitan, Firaun dan ad-Dajjal:

Makhluk paling buruk setelah syaitan ialah Fir’aun. Dia mengkalim dirinya sebagai Rabbi al NaasQS.79.24, kemudian dia juga mengklaim sebagai Malik al Naas:  QS.43.51 dan yang terakhir dia mengklaim sebagai Illahi al Naas: QS.28.38. Jadi firaun telah mendeklarasikan dirinya sebagai Rabb (Master), Malik (Raja), dan Illaah (Tuhan). Dan ini juga yang Dajjal akan klaim dalam langkah-langkah gradual saat kekuatannya berkembang. Inilah yang menjadikan waswasa/bisikan setan bisa memimpin seseorang kepada sesuatu.

Penyakit arogansi

Kesalahan terbesar dari syetan ialah arogansi/kesombongan. Dan dia ingin manusia mengikutinya melalui bisikan/waswasanya. Dan juga hal ini yang bagaimana Firaun sesat dipimpin oleh dia. Sekarang, kita hidup pada zaman dimana orang mengklaim dirinya menjadi Master, Raja dan Tuhan bagi dirinya sendiri yang membuat peraturan yang mana yang haram dan halal bagi dirinya.

QS.45.23(QS.45:23)

Kita hidup di zaman dimana lingkungan sosial kita menjadi mini firaun. Masalah ego ini merupakan akar masalah tersebut. Dan ini yang membuat Allah berfirman Qul audzu bi Rabb (Katakanlah!! Aku merendahkan hatiku dalam mencari perlindungan Tuan/Master ku yang mana aku sebagai budak-Nya). Ini akan membuat kita rendah hati dan tidak sombong.

Syeitan mengakui bahwa Allah ialah Yang Menciptakan dirinya (dimana dalam Al Quran, syeithan berkata “Engkau menciptakanku dari api”) tetapi dia ingin manusia untuk lupa bahwa Allah menciptakan mereka. Ini sebuah contoh yang nyata dari Firaun tersebut.

Naas memiliki beberapa pengertian, dan satu akar katanya ialah Nasiyya – untuk menjadi pelupa. Al Farraa’ – manusia lupa dengan janji dirinya dengan Allah, sehingga mereka dipanggil al Naas/Insan – dari akar kata nasiyya – menjadi pelupa. QS.7:172 menjelaskan sebagai berikutQS.7.172

Syeithan telah diberikan kekuatan oleh Allah untuk membuat manusia lupa. Hal paling besar yang sering dilupakan manusia ialah bahwa Allah mengawasi dan melihat mereka semua.Allah berfirman pada QS.58:19 :QS.58.19

 

 

 

 

Kita berlindung kepada Allah agar tidak menjadi pelupa dan selalu mengingat Allah. Karena itulah kita diminta membaca taawudz saat ingin membaca Al Quran. Salah satu cara terbaik untuk melawan bisikan syeithan ialah dengan mengingat Allah atau berdzikir. Semakin sering Allah diingat, semakin kecil peluang syeithan mempunyai kontrol. Waktu setan masuk ke dalam dada manusia ialah saat kita tidak mengingat atau lupa dengan Allah.

Malik juga menyatakan kepemilikan, jadi Allah menjadi Rabb/Master dan Malik/King = powerful Illaah. Illaah – aliha / ilayhi – to incline towards someone and be obsessed with them (condong ke arah seseorang dan terobsesi dengan mereka).

Saat firaun melihat kekuasaannya melemah, ini saat dimana dia menyampaikan bahwa dia tuhan kepada jendral-jendralnya. Sehingga mereka cenderung kepada firaun (ilayhi). Saat seorang raja ngomong ke jendralnya, dia membutuhkan kepatuhan mereka. Illaah merupakan konteks seperti ini. Pernahkah kamu melihat seseorang yang mengambil keinginannya atau nafsunya sebagai Illaah dia?

Keinginan/Nafsu: godaan, keserakahan, uang haram. Orang mengikuti keinginan/nafsu mereka pada keserakahan walaupun itu hal yg haram – membuat keinginan mereka sebagai tuhan. Jadi Illaah ialah Tuhan tidak hanya dalam bentuk penyembahan namun juga dalam bentuk ketaatan. Kita beribadah namun tetap setelah ibadah tersebut kita tetap diharuskan untuk berada pada ketaatan pada Allah.
Ar-Razi, az-Zamakhshari dan lainnya berkata: Allah telah menghormati manusia dengan menempatkan Nama-Nya setelah manusia pada Illaahi al Naas (Tuhan dari seluruh manusia). Hal itu menunjukkan perhatiannya untuk manusia dan Dia siap untuk melindungi manusia dari sesuatu apa saja yang dimintai pertolongan kepada Allah. 3 ayat pertama merupakan Musta’aadh bi hee – masuk ke dalam perlindungan Allah. Setelah ayat ini, surat An Naas akan masuk kepada tipe Musta’aadh min hu (sesuatu yang kita minta perlindungan Allah dari).

Ayat 4

114_4

Syeithan menempatkan dirinya tepat diatas hati manusia jadi ketika dia lupa dan tidak peduli maka syeithan akan masuk ke dalam hatinya. Namun ketika dia mengingat Allah maka dia pergi atau mundur (khan-nasa). Syeithan terus berusaha keras untuk melemparkan kita bersama dia menuju ke neraka jadi kita harus berusaha keras untuk mengingat Allah.

Contoh kemenangan bisikan syeithan:

Syeithan menghasut orang untuk marah karena marah merupakan perwujudan ego atau arogansi. Saat ini terjadi, kita seharusnya mengucapkan taawudz (Saya mencari perlindungan Allah dari syeithan yang terkutuk). Jika seorang yang beriman menjadi marah – dia tidak mencari perlindungan Allah dari arogansi tersebut maka syeithan sukses dua kali.

Ini terjadi hanya saat kita merendahkan diri dengan mengingat Allah bahwa setan mundur ke belakang. Dan ini membutuhkan upaya melawan setan yang berbisik ini yang mana dia ingin Anda tetap marah dan sombong. Allahlah yang hanya punya hak untuk marah karena kemarahan-Nya didasarkan pada keadilan.

Ada hadits sebagai berikut (HR Muslim. 2814):

Rasulullah bersabda “tidak ada salah satu dari kalian sendiri, kecuali pasti ada mitra konstan [qarin] yang ditugaskan pada kamu”. qooluu wa anta ya Rasul Allah? – mereka berkata “dan bahkan Anda juga wahai Rasulullah?”. Rasulullah menjawab, qoola na’am, il-laa an Allaha a’nani alayhi fa la ya’murunee il-laa bil khayr. Dia berkata “ya, kecuali Allah telah membantu saya melawan dia dan dia tidak pernah memberitahu saya apa-apa kecuali untuk berbuat baik”.

Qariin – Biasanya diasosiasikan dengan setan atau iblis kecuali kepada Rasulullah sebagaimana dideskripsikan diatas. Dimana setiap orang kecuali Nabi memiliki setan di sekitarnya yang selalu mencoba untuk mempengaruhi seseorang melakukan perbuatan buruk.

Hadist kedua: Rasulullah sedang berjalan di malam hari dan mengembalikan istrinya Safiyya ke rumahnya. Dua sahabat dari Anshar (Muslim dari Medinah) melihat Rasulullah.
Jadi Rasulullah berkata Safiyya dan dua orang untuk berhenti. Kemudian dia mengatakan kepada mereka; Innaha Safiyya bint Hayyiy – tentunya ini Safiyya putri Hayyiy.

Para sahabat berkata; Subhanallah ya Rasul Allah! (Maha Suci untuk Allah wahai Rasulullah!) [yaitu. mengapa kita berpikir Anda melakukan kejahatan apapun?]. Jadi dia menjawab: “Inna ash-shaytana yajree min ibni Adam majrad-dam – pasti setan berjalan / mengalir melalui anak Adam seperti darah. wa inni khasheetu biaya yaqdifa quloob kuma abu-shay’a – aku takut bahwa ia (setan) akan melempar / memulai sesuatu di dalam hati Anda”

Jadi waswasa masuk ke dalam hati umat Islam yang tidak ingat Allah banyak, dan mereka mulai meragukan Rasulullah. Kalau saja mereka ingat Allah – waswasa ini (berbisik) dari setan tidak akan mempengaruhi mereka. Menerima Rasulullah – seorang manusia – sulit bagi orang untuk mengikuti. Ini adalah waswasa dari setan itu. Dan ini adalah apa yang Rasulullah takut untuk umat-Nya, karena ini adalah apa yang orang-orang dari bangsa sebelumnya lakukan.

Definisi Linguistic:

Min = Dari (from)

Syarr = Syarr adalah lawan dari khair (baik). syarr adalah secara Universal dikenal sebagai kejahatan, yang yang akan menyebabkan seseorang bahaya. Syaraara = percikan api yang melompat keluar dari kebakaran dan bisa membahayakan Anda. Syarr = Sebuah kejahatan yang dapat membahayakan Anda.

al waswas – wawasah = bisikan. Hal ini juga menyinggung Taqrar al Lafdh – yaitu Waswasa menyiratkan berbisik dilakukan sekali, maka itu berhenti, dan berbisik mengembalikan kembali lagi. Hal ini mirip dengan Zalzalah – Bumi saat berguncang, berhenti kemudian berlanjut untuk berguncang kembali. Ini menunjukkan kontinuitas dan pengulangan. Waswasah ini menunjukkan bahwa setan berbisik kemudian berhenti kemudian lanjut lagi secara terus menerus.

Kata waswasah ini merupakan kata benda karena Allah ingin menunjukkan dalam bentuk yang lebih kuat. Waswaas yang digunakan ayat ini merupakan bentuk hiperbola atau bentuk maksimum – pembisik secara ekstrim. Yang mana dia melakukan bisikan ini secara terus menerus, terobsesi dengannya dan dia tidak akan berhenti selamanya.

Kata Al disini menunjukkan pembisik yang paling extreme. Hal ini dikarenakan yang melakukan bisikan tersebut bisa menjadi lebih jahat dari yang hanya pembisiknya. Jadi saat kita minta Allah untuk melindungi kita dari ‘pembisik’ – kita minta bantuan Allah untuk melindungi kita dari segala kejahatan, pelaku yang melakukan bisikan jahat. Kita minta perlindungan Allah dari segala kejahatan-kejahatan yang dapat terjadi jika kita melakukan bisikan tersebut. Kita tidak hanya meminta pertolongan terhadap setan yang berbisik namun juga terhadap kejahatan yang dibisikkannya.

al Khannas = yang selalu mundur secara kontinu. Hal ini menunjukkan dia selalu senantiasa untuk maju ke depan dada/hati juga. Saat seseorang berzikir kepada Allah maka syaithan akan mundur ke belakang. Kemudian ketika dia lengah, maka syaithan akan maju dan membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia.

Allah berfirman bahwa syaithan atau iblis tidak punya kuasa kepada hamba-Nya di surat 15.42. “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” Dari firman Allah ini, petunjuk agar syaithan tidak menjadi yg membisikkan kita ialah dengan mengikuti perintah Allah SWT.

 

 

1. Mengenal Allah adalah Fitrah Insani

Pada tulisan selanjutnya saya mencoba berbagi klasifikasi topik yang ada di Al Quran, saya mengambil referensi dari buku tulisan Choiruddin Hadhiri SP yang berjudul Klasifikasi Kandungan Al-Qur’an Jilid 1 dan Jilid 2 terbitan Gema Insani Press.

Pada Bab I ini yang akan dibahas ialah mengenai Allah SWT, Ilmu dan Makhluk ciptaan-Nya. Tag kita mulai dengan Allah SWT. Allah telah nyatakan dalam Al Quran bahwa mengenal Allah ialah fitrah semua insan atau manusia. Disadari atau tidak disadari manusia akan merindukan Sang Pencipta dan Pelindungnya yang Maha Kuasa. Suara fitrah muncul terdengar dan menjerit  memanggil Rabbnya manakala manusia dihadapkan malapetaka, kesulitan yang dahsyat. Malapetaka seperti bencana alam atau ketika kita di pesawat udara dan kondisi cuaca yang sangat tidak bersahabat dan pesawat seperti akan jatuh maka kita akan melihat semua penumpang berdoa dan memanggil nama Tuhan dan Rabbnya. Saat itu manusia patuh tunduk khusyuk, tawakal dan tidak ingkar kepada-Nya. Oleh karena itu, hendaklah manusia tetap pada agama yang lurus yaitu Islam.

Di bawah ini ialah Firman Allah yang menjelaskan sifat manusia yang pada fitrahnya ingat kepada Rabb-Nya pada kondisi tersebut

039.008 039.049

df

Siklus kehidupan dibuat Tuhan

Bagaimana kita ingkar kepada Allah SWT yang menciptakan kita dengan siklus mati – hidup – mati – hidup dan akan dikembalikan kembali kepada-Nya.

  • Fase pertama ialah Mati. Lama fase ini: ~ (Wallahualam)

yaitu disaat kita sebelum berada di rahim ibu kita. Kita tidak berwujud apa-apa. Pernahkah kita berpikir bahwa jika kita tidak hidup ke dunia, kita akan berada dimana? Mungkin kita hanya berupa nyawa yang berada dalam kegelapan dan tidak berarti apa-apa.

  • Fase kedua ialah Kehidupan Dunia. Lama fase ini: sesuai umur Rasulullah (normalnya 50-70 tahun)

Kemudian Allah SWT menjadikan kita ruh yang menempati fisik bayi saat masih berada di dalam rahim ibu kita. Disinilah Allah SWT menjadikan kita hidup. Setelah kita lahir ke dunia, Allah menjadikan kita seorang manusia yang saat inilah Allah memberikan petunjuk dari Rasul-Nya agar kita menjalani kehidupan ini memiliki visi, misi dan manual yang jelas.

Cycle

  • Fase ketiga: Kematian di alam kubur. Lama fase ini: kurang lebih 3000 tahun.

Setelah kita berumur kurang lebih 63 tahun, kita akan mati dan masuk ke dalam kubur untuk menunggu dibangkitkan kembali. Di kubur ini, yang kita bawa hanya amalan kita di dunia saja. Harta, keluarga dan segala yang kita dapat di dunia akan ditinggalkan. Bayangkan 3000 tahun ini bisa menjadi siksaan namun bisa juga menjadi ketenangan. Tergantung amal kita, jika amal kita bagus, shalat 5 waktu yang bagus, amalan wajib dan sunah kita penuhi, amal jariyah yang terus mengalir maka kubur kita tidak akan sempit. Wallahualam

  • Fase keempat: Kebangkitan di Alam Mahsyar. Lama fase ini: kurang lebih 50.000 tahun

Setelah kiamat datang, maka kita akan dibangkitkan oleh Allah SWT untuk menunggu pengadilan yang sebenar-benarnya dan seadil-adilnya. Semua orang akan membawa buku catatan semua amal yang pernah ia lakukan selama di dunia yang hanya berkisar antara 50-70 tahun. Jika amalannya baik maka ia akan menunggu bersama Rasulullah dan dengan tenang namun jika amalannya buruk, maka ia akan ketakutan dan sangat galau. Di fase ini, semua orang akan menunggu kurang lebih 50.000 tahun sebelum ia akan dimasukkan ke dalam surga atau neraka selama-lamanya.

Kesimpulan:

  • Hidup di dunia ini merupakan fase yang sangat sebentar dan tidak akan berarti apa-apa jika dibandingkan dengan fase berikut setelah kita mati. Oleh karena itu, kita harus menjadikan hidup di dunia ini menjadi bekal yang banyak untuk kehidupan berikutnya. Bekal yang paling baik ialah menjadi orang yang bertaqwa dan selalu menghindari berbuat dosa karena bisa jadi kita kalah di pengadilan Allah karena perbuatan dosa kecil yang kita selalu lakukan dan menganggap remeh.

QS. Al Baqarah: 28.

Hanya kepada Allah SWT lah kita berlindung dan memohon pertolongan.

Metafora dalam Quran dan Orang Fasik

Allah berfirman dalam Al Quran sering menggunakan metafora atau perumpamaan untuk menjelaskan maksud dari suatu keadaan. Contohnya pada ayat surat 23 Al Hajj yang di dalamnya Allah menerangkan bahwa berhala-berhala yang mereka sembah itu tidak dapat membuat lalat sekalipun.  Selain itu ada ayat 41 surat Al Ankabuut yang di dalamnya Tuhan menggambarkan kelemahan berhala-berhala yang dijadikan oleh orang-orang musyrik itu sebagai pelindung sama dengan lemahnya sarang laba-laba.

Lalat dan laba2

Orang beriman pasti yakin perumpamaan ini memang berasal dari Allah SWT sedangkan orang kafir yang dibiarkan sesat oleh Allah SWT bingung dengan maksud Allah membuat perumpamaan seperti ini. Orang-orang yang sesat ini disebut orang fasik itu ialah orang yang suka melanggar perjanjian terutama perjanjian kepada Allah SWT untuk menaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka suka memutuskan apa yang diperintahkan oleh Allah sesuka mereka sendiri dan mereka berbuat kerusakan/zalim di dunia. Orang inilah yang rugi dunia dan akhirat.

Sehingga orang fasik dan orang kafir bisa dikatakan mirip karena sama-sama mengingkari yang Allah SWT perintahkan dan suka berbuat berdasarkan kesukaan mereka sendiri.

(QS.2:26-27)

Tantangan untuk yang masih ragu terhadap Al Quran

Allah SWT menantang kepada seseorang yang masih ragu terhadap kebenaran kitab Al Quran dan bahwa kitab ini diturunkan kepada Rasulullah dari Allah SWT. Tantangan untuk membuat satu surat yang semisal dengan Al Quran. Satu surat yang semisal ini ialah terkait dengan kebenaran isinya, kosa kata dari penyusun surat Al Quran, dan dihafal ribuan bahkan jutaan orang di bumi. Dan jika kamu sendiri tidak bisa membuat satu surat semisal maka silahkan mengajak seluruh manusia atau ciptaan Allah lainnya untuk membuatnya.

Allah menjelaskan di ayat berikutnya bahwa pasti manusia tidak akan mampu membuat satu surat seperti Al Quran. Dan jika manusia tidak mampu membuat Al Quran, maka takutlah akan neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu. Neraka ini disediakan untuk orang-orang kafir yang ingkar perintah Allah. Agar kita tidak masuk ke dalam neraka, maka kita harus menjadi orang yang beriman dan menjalankan seluruh perintah Allah SWT.

Sedangkan bagi orang yang beriman dan yakin terhadap Al Quran serta mereka berbuat baik dan menjalankan perintah Allah SWT sekaligus menjauhi larangan-Nya. Maka untuk mereka disediakan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Untuk kaum mukminin ini maka disediakan pasangan-pasangan yang suci dan mereka akan kekal di dalam surga ini.

HD Paradise Wallpaper

 

(QS.2:23-25)